“Menguatkan Ekosistem Digital Pendidikan dengan Berkarya dan Berbagi untuk Wujudkan Merdeka Belajar”.
Pendidikan adalah pondasi untuk masa depan sebuah bangsa. Karena itu
seorang guru harus memastikan ilmu yang diikuti oleh siswa berdaya guna untuk
mereka. Tidak hanya karena ilmu itu penting untuk masa depan tapi juga karena
ilmu akan mencerminkan nilai moral mereka sebagai manusia seutuhnya yang
tercermin dalam profil pelajar pancasila yang akan mereka bawa menuju hari
esok. Tantangan ini akhirnya akan berada di tangan para pendidik yaitu
orang-orang yang mendedikasikan dirinya untuk membina generasi muda menjadi
manusia yang tangguh, berkualitas dan mampu bersaing secara global.
Sebagai seorang pendidik, saya harus memastikan proses belajar yang
dilakukan siswa memiliki nilai manfaat untuk mereka. Maka menyesuaikan metode
dan model pembelajaran adalah hal utama untuk dilakukan. Pembelajaran yang
beradaptasi terhadap kebutuhan siswa akan memudahkan mereka dalam mengerti
materi pembelajaran.
Sejalan dengan tujuan dari penerapan kurikulum merdeka, pembelajaran
harus bersumber dari siswa. Pembelajaran harus menitikberatkan kegiatan pada
aktivitas siswa didalam kelas. Oleh karena itu saya menerapkan pembelajaran
dengan metode resitasi didalam kelas agar siswa mampu mencari, menalar,
mempraktekkan, membuktikan dan melaporkan hasil dari pembelajaran yang dialaminya.
Pada kesempatan ini, materi yang diajarkan adalah Interaksi antar perangkat untuk mata pelajaran Informatika kelas VII. Pada materi ini, siswa diharapkan mampu untuk menghubungkan dua perangkat dengan menggunakan jaringan berbeda. Pembelajaran ini telah memenuhi standar High Order Thinking skill karena dua dari tiga tujuan pembelajarannya telah berada di tahap kognitif akhir yaitu menciptakan dan menganalisa.
1. Meningkatkan HOTS dengan pembelajaran Resitasi
Memasukkan unsur HOTS dalam pembelajaran adalah hal
yang disarankan dalam kurikulum merdeka karena hanya pelajaran bermuatan HOTS
yang mampu mengembangkan daya nalar kritis siswa dalam belajar. HOTS adalah
kunci pembelajaran yang bermanfaat dan relevan dengan tujuan dari kurikulum
merdeka yaitu mengembangkan siswa sesuai dengan bakat dan minat mereka.
Saya memilih pembelajaran resitasi karena relevan
dengan tujuan tersebut diatas. Metode pembelajaran ini cenderung fleksibel,
mudah digunakan dan gampang untuk diawasi. Selain itu juga pembelajaran ini memiliki
fungsi ganda sebagai post test atau evaluasi dari proses hasil belajar yang
telah dilakukan oleh guru. Dengan pembelajaran ini seorang guru bisa melihat
umpan balik hasil belajar dari siswa apakah pembelajaran yang telah dilakukan
telah sampai kepada siswa atau tidak karena walaupun pembelajaran di dalam
kelas seru tanpa tapi hasil tidak efektif maka itu adalah sebuah kesia-siaan
dalam pendidikan.
Pembelajaran menggunakan metode resitasi adalah model
pembelajaran lama dimana siswa diharuskan menuliskan hasil dari proses belajar
yang telah mereka lalui di dalam kelas. Dulu pembelajaran ini sering dilakukan
di dalam kelas namun tidak bisa efektif karena guru memaksakan kepada siswa
untuk menuliskan isi dari sebuah buku kedalam lembar evaluasi sehingga ketimbang
disebut sebagai metode mengajar, pembelajaran ini cenderung bisa disebut
pembelajaran menyalin buku paket kedalam lembar evaluasi. Selain itu, hasil
dari tulisan siswa biasanya ditulis pada buku tulis siswa tersebut sehingga
guru tidak mendapatkan penilaian post test dari tulisan siswa. Pada kesempatan
ini saya mencoba melakukan inovasi pada metode pembelajaran tersebut dengan
menerapkan penggunaan perangkat dan juga platform teknologi untuk mendapatkan
pembelajaran yang efektif dan terbarukan.
Pembelajaran metode resitasi tidak bisa berdiri
sendiri melainkan memerlukan metode pembelajaran lain untuk memaksimalkan hasil
yang didapatkannya. Pada kegiatan ini, saya mengkombinasikan setidaknya tiga
buah metode pembelajaran di dalam kegiatan inti yaitu metode Information
Search, Metode Inquiry, dan Metode Resitasi. Metode Information search berguna
untuk menyelaraskan pencarian siswa terkait informasi yang ingin dicari, metode
Inquiry akan mengasah kemampuan analisis dan presentresentasiase siswa lalu metode
Resitasi akan melihat seberapa besar kemampuan siswa dalam menuliskan
pengalaman dan pengetahuannya kedalam tulisan.
Pembelajaran ini dimulai dengan menyiapkan kelas. Kegiatan ini penting untuk dilakukan guna membuat kelas kondusif dan siap untuk menerima pelajaran. Dalam kasus ini, saya menyiapkan kelas dengan bertepuk tangan bersama dengan siswa. Kegiatan ini dapat membangkitkan ketertarikan pada siswa agar perhatiannya masuk kedalam ruang kelas sebelum pembelajaran dimulai.
![]() |
| Siswa melakukan asesmen kognitif sebelum belajar dengan menggunakan akun belajar.id |
Langkah selanjutnya adalah kegiatan pendahuluan. Pendahuluan di dalam kelas adalah tempat dimana guru melakukan kegiatan awal pembelajaran seperti memberi salam, melakukan presensi kehadiran, menanyakan pembelajaran dari minggu lalu, melontarkan pertanyaan pemantik, menyampaikan tujuan pembelajaran dan lainnya. Kegiatan ini adalah salah satu aspek penting dimana saya memberikan asesmen kognitif kepada siswa menggunakan akun belajar.id. Selain itu disinilah siswa mendengarkan tujuan dari pembelajaran yang akan dilakukan dan juga manfaat dari pembelajaran itu. Menyampaikan manfaat pembelajaran kepada siswa dapat dikombinasikan dengan pertanyaan pemantik agar terjadi interaksi yang lebih banyak dengan siswa terkait materi yang ingin mereka pelajari.
![]() |
| Siswa Melakukan proses penggalian informasi menggunakan flatform teknologi |
Bagian selanjutnya dari pembelajaran ini adalah
menerapkan sintaks dari Problem Based Learning yaitu orientasi siswa pada
masalah. Penerapan ini digunakan karena pembelajaran ini menggunakan model
pembelajaran Problem based learning. Orientasi siswa pada masalah adalah
memberikan kasus kepada siswa berupa sebuah masalah untuk nantinya dipecahkan. Pada
pembelajaran ini, kasus yang digunakan adalah tentang dua orang anak yang
sedang liburan dan ingin mengirimkan foto namun tidak ada jaringan internet di
tempat liburan tersebut. Pemilihan masalah ini sudah sesuai dengan tujuan dari
pembelajaran yaitu siswa bisa memahami, menciptakan dan membuktikan transfer
data antara dua perangkat yang berbeda pada pelajaran interaksi antar perangkat
untuk informatika kelas VII kurikulum merdeka.
![]() |
| Guru membagi siswa kedalam dua kelompok untuk melakukan eksperimen pengiriman data |
Setelah siswa diperkenalkan pada masalah, mereka
dibagi menjadi kelompok kecil yang terdiri atas dua orang yaitu siswa A dan
Siswa B. Mereka kemudian akan melakukan pencarian data sendiri untuk memecahkan
masalah mereka dengan menggunakan sosial media. Dalam prakteknya, siswa
menggunakan smartphone mereka untuk mencari pemecahan dari masalah tersebut
yaitu menggunakan jaringan bluetooth untuk pertemuan pertama dan menggunakan
wifi share untuk pertemuan kedua. Siswa mencoba teori tersebut dengan teman
sekelompoknya sebelum mempraktekkannya di depan kelas.
![]() |
| Siswa Mengirimkan foto dan menunjukkannya kepada Guru |
Setelah mencari pemecahan masalah tersebut dan mencoba
dengan teman sekelompoknya, siswa kemudian akan maju dan membuktikan hasil
pencariannya di depan guru dan teman kelasnya. Untuk percobaan pertama, siswa A
akan mengirimkan foto selfienya ke siswa B. Pada kesempatan ini, siswa A dan
siswa B dipisahkan di dalam kelas untuk menghindari kecurangan mengirimkan foto
dengan menggunakan jaringan internet. Ketika foto telah terkirim, siswa B akan
mendatangi siswa A yang berada di dekat guru untuk menunjukkan hasil foto yang
dikirimkan.
Pada kegiatan kedua, siswa B akan mengirimkan foto ke
siswa A tapi sebelum itu, siswa A akan disuruh menunggu diluar kelas. Jika foto
dari siswa B telah dikirim, siswa B boleh memanggil temannya yaitu siswa A dan
menunjukkan foto yang terkirim di kedua smartphone di depan guru. Tiap kelompok
yang berhasil mengirimkan foto akan mendapatkan apresiasi berupa ucapan selamat
dan tepuk tangan dari semua teman di dalam kelas.
![]() |
| Siswa menunggu diluar kelas untuk percobaan kedua |
Pada pelajaran ini, karena waktu yang dibutuhkan
cenderung cepat, maka masih ada waktu yang bisa digunakan untuk tantangan
kepada siswa. Tantangan pembelajaran diberikan dengan memberikan kompetisi
kepada siswa untuk mencoba mengirimkan data pada perangkat yang berbeda yaitu
mengirimkan musik ke perangkat speaker bluetooth dan mengirimkan foto kepada
laptop guru. Dalam tantangan ini dua orang siswa berhasil menyelesaikan dengan
waktu tercepat yaitu arif dan safira.
![]() |
| Siswa mengerjakan tantangan mengirimkan foto ke laptop guru menggunakan bluetooth |
Bagian terakhir yaitu Menuliskan pengalaman atau
proses resitasi. Proses resitasi menjadi kegiatan inti dan terakhir dari
pembelajaran ini karena di bagian inilah tempat siswa menuliskan semua proses
pembelajaran yang telah mereka lakukan. Dalam kegiatan ini guru memberikan soal
bertipe HOTS untuk memancing daya nalar siswa seperti "Bagaimana cara
mengirimkan foto menggunakan bluetooth?" dan "apa yang terjadi jika
semua perangkat di dunia terkoneksi dalam satu jaringan?". Hasil siswa
kemudian menjadi bahan evaluasi terkait sejauh mana pemahaman siswa terkait
pembelajaran yang telah dilakukan.
![]() |
| Siswa melakukan proses resitasi |
![]() |
| Siswa Melakukan proses resitasi |
Hal menarik dari pembelajaran ini adalah, metode pembelajaran ini sepenuhnya melibatkan siswa dalam pembelajaran dari awal sampai akhir. Dalam kegiatan ini, guru hanya menjadi seorang pengawas dan teman belajar sedangkan media dan sumber belajar ada pada siswa sendiri. Siswa melakukan pencarian informasi, membuktikan proses, melakukan presentasi dan menulis hanya dengan teman kelompoknya. Guru hanya mengarahkan dalam proses tersebut sehingga apa yang ditulis dalam proses resitasi adalah pengalaman dari proses pembelajaran dan bukan hasil dari materi yang ada di buku maupun internet. Mengembangkan siswa untuk bisa menulis pengalaman belajar adalah kunci dari pembelajaran ini karena menulis berarti mengembangkan dan membagikan nalar kepada orang lain, sebuah puncak dari proses pendidikan.
![]() |
| Lembar Resitasi yang berisi pengalaman belajar siswa |
2. Berbagi dan berkolaborasi praktik baik dengan guru di UPT SMPN 3 Mattirobulu
Setelah
melihat hasil pembelajaran kepada siswa yang memuaskan, saya kemudian melakukan
kegiatan berbagi praktik baik dengan guru mata pelajaran yang ada di UPT SMP
Negeri 3 Mattirobulu. Dalam kegiatan berbagi ini, selain berbagi, saya juga
berkolaborasi dengan dua orang guru lainnya untuk berbagi praktik baik yaitu
bapak Suardi S.Pd dan Hj Hermanto S.Ag.MA. Bapak suardi adalah Peserta dari
Calon Guru Penggerak Angkatan 8 yang membagikan praktik baik pembelajaran
berdiferensiasi kepada para guru di sekolah. Sedangkan Hj Hermanto adalah wakil
ketua PGRI cabang Mattirobulu yang membagikan praktek pembelajaran Agama yang
disenangi oleh siswa.
![]() |
| Poster berbagi praktik baik dengan guru di sekolah |
Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 16 Oktober 2023. Kegiatan ini dihadiri oleh 10 dari 15 guru dan tendik yang ada di UPT SMP Negeri 3 Mattirobulu. Dari kegiatan ini, beberapa guru tertarik untuk mencoba praktik pembelajaran resitasi di dalam kelas. Dari beberapa guru yang tertarik, kebanyakan menanyakan soal keefektifan dan keefektifitasan pembelajaran dalam kurikulum merdeka serta apakah penerapan tidak menimbulkan masalah dalam kelas jika siswa aktif. Pertanyaan tersebut dijawab secara sederhana bahwa pembelajaran ini akan efektif jika konsep pembelajaran di awalnya menarik dan memberikan keleluasaan kepada siswa untuk berkreasi di dalam kelas.
![]() | ||
Pemaparan Materi berbagi praktik baik
|
3. Berbagi Praktik baik dengan MGMP TIK Kabupaten Pinrang
Langkah
selanjutnya dari proses berbagi praktik baik yang saya lakukan adalah dengan
memberikan proses ini kepada guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata
Pelajaran (MGMP) TIK Kabupaten pinrang. Kegiatan ini perlu karena guru yang
tergabung dalam komunitas ini memiliki mata pelajaran yang sama dengan yang
saya ajarkan di sekolah sehingga pemanfaatan metode ini bisa memiliki dampak
positif yang sama.
![]() |
| Poster berbagi Praktik Baik dengan MGMP TIK |
Kegiatan ini berlangsung melalui Google Meet pada tanggal 17 Oktober 2023. Kegiatan ini dihadiri oleh 17 orang guru TIK yang berasal dari 12 Kecamatan di kabupaten pinrang dan 17 sekolah berbeda. Dalam pertemuan ini, guru bertanya tentang izin penggunaan smartphone di sekolah karena kebanyakan sekolah masih melarang siswanya menggunakan smartphone di sekolah. Pertanyaan ini bisa dijawab dengan menganggap smartphone hanya sekedar aspek pendukung dan media belajar dengan begitu maka perannya bisa digantikan oleh laptop maupun chromebook yang telah dibagikan oleh KEMDIKBUD RISTEK. Selain pertanyaan itu ada juga pertanyaan tentang alternatif penggunaan perpustakaan untuk menggantikan information search menggunakan smartphone.
![]() | ||
Pemaparan materi pada MGMP TIK Kabupaten Pinrang
|
4. In House Training (IHT) Canva For Education
Inhouse
training adalah saran dari kepala sekolah untuk dilakukan di sekolah berkenaan
dengan salah satu kegiatan pembatik untuk berbagi praktik baik di sekolah untuk
guru. Kegiatan ini kemudian menjadi pertimbangan mengingat guru di sekolah
banyak yang sedang mengikuti kegiatan pengembangan diri seperti Program Profesi
Guru (PPG) dan juga Guru Penggerak (GP). Kedua kegiatan ini butuh soft skill
dalam bidang pembuatan desain grafis dan juga desain video untuk pengeditan
pembelajaran. Karena itu kegiatan ini dilakukan dalam dua hari yaitu pada
tanggal 18 dan 19 Oktober 2023.
![]() |
| Poster IHT Canva For Education |
Dalam kegiatan ini, pemateri membagikan desain sederhana yang bisa dilakukan menggunakan canva untuk membuat sampul modul ajar, poster kebersihan, dan juga iklan untuk sosial media. Untuk kegiatan pembuatan video, pemateri membagikan cara pengeditan sederhana dengan video sederhana untuk canva kepada para guru yang sedang mengikuti pengembangan diri. Kegiatan ini dihadiri oleh 10 dari 15 guru di UPT SMP Negeri 3 Mattirobulu.
![]() | ||||||
Pemberian materi tentang Canva for education
|
5. Berbagi dan berkolaborasi dengan sahabat teknologi sulawesi selatan tahun 2023
Saya juga berkesempatan untuk berbagi dan
berkolaborasi dengan sahabat teknologi 2023. Pada kesempatan ini saya
berkolaborasi dengan dua orang sahabat teknologi yaitu Bapak Firmansyah S.Pd.,
M.Pd dari Soppeng dan Bapak Runal Rezkiawan B., S.Kom., MT dari Kota Makassar. Kegiatan
berbagi kami beri nama Sarabba (Sahabat berbagi dan berkolaborasi Bersama). Turut
serta sebagai pembuka dan Keynote Speaker dalam kegiatan ini adalah Bapak
Muhammad Alimka, S.Pd, Duta Teknologi Sulawesi Selatan Kemdikbud Ristek 2023.
![]() |
| Poster Sarabba |
![]() |
| Pembukaan Kegiatan Sarabba |
Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh bapak
Firmansyah yang memperkenalkan anggota berbagi praktik baik lalu mempersilahkan
bapak Alimka untuk menyampaikan kalimat pembuka. Bapak Alimka menyampaikan
bahwa pendidikan bukanlah sebuah kapal yang dijalankan oleh satu orang saja
namun oleh banyak orang yang bekerja sama agar kapal bisa mencapai tujuan. Kegiatan
lalu berpindah ke bapak runal Rezkiawan sebagai pemateri pertama. Bapak runal
membawakan materi tentang pemanfaatan aplikasi untuk memudahkan rekayasa
elektronik dalam pembelajaran di SMK. Selanjutnya saya membawakan materi
tentang pembelajaran resitasi. Pada kesempatan kali ini, saya menjelaskan
tentang manfaat pembelajaran resitasi dalam pendidikan siswa dimana guru hanya
bertindak sebagai pengawas dan siswa terlibat aktif secara menyeluruh di dalam
pembelajaran ini. Setelah saya diikuti oleh bapak firmansyah yang menawarkan
praktik baik untuk diikuti yaitu pembelajaran menggunakan multimedia interaktif
untuk anak sd dalam mengerti tentang magnet.
![]() |
| Kegiatan Berbagi dan berkolaborasi |
![]() |
| Kegiatan Berbagi dan berkolaborasi |
![]() |
| Kegiatan Berbagi dan berkolaborasi |
Kegiatan ini dihadiri oleh peserta dari berbagai tempat di Indonesia. Dari peserta ini saya mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana penerapan di sekolah. Saya menjawabnya bahwa penerapan di sekolah masih kurang efektif karne media pembelajaran belum memadai. Lanjut pertanyaan tentang apakah bisa diterapkan di sekolah swasta. Saya menjawab bahwa jenis sekolah tidak berpengaruh terhadap keefektifitasan metode yang digunakan selama konsep pembelajaran memiliki rangkaian yang menarik sedari awal. Sesi berakhir dengan sharing pengalaman dari beberapa guru tentang kondisi yang mereka hadapi di sekolah. Berbincang santai sambil menunggu malam seperti kawan sejati yang meminum sarabba bersama.
Setelah melalui rangkaian kegiatan pembatik dan sampai pada level 4
ini, saya sangat bangga dengan hasil yang saya dapatkan. Tidak hanya saya
menjadi lebih termotivasi untuk menemukan pembelajaran kreatif baru namun juga
bisa memberikan dampak yang luas kepada orang disekitar saya termasuk pada
siswa dan guru. Saya berharap kegiatan ini bisa terus memotivasi para guru di
indonesia untuk terus berkembang menemukan metode pembelajaran baru dan
inovatif demi kemajuan dari pendidikan indonesia. Amin

.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)

.png)
.png)
.png)
.png)
.png)

.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
0 komentar:
Posting Komentar